Kamu dan Rindu Apa kabarmu gadis purnama? kita pernah berjanji diatas sebuah kertas pada malam purnama tanggal enam bulan kedelapan. Hari semakin membara sejak saat itu, dan kadang pun tak dapat dipungkiri kita berperang dengan kata. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan musim itu kembali, dimana langit menyirami tanah dengan wewangian. Kita mungkin terasa dekat, karena kita masih berpijak di tempat yang sama. Tapi bagiku kita memang sudah jauh, bayangan kita pun sudah tak lagi menyapa. Jikalaupun bertemu, tiada sapa. Aku merindukanmu, tapi yang terjadi tak dapat kembali. Aku mencintaimu dan tetap masih tak beralasan mengapa.
Aku merindukanmu dalam damai, seperti saat kita berlayar dilautan yang membawa kita melayang-layang, tak ada cemas. hanya sebuah tawa.
Aku tak ingin kau kembali, kembali menjadi tanpa arti yang tak dapat kau maknai. Aku mencintaimu dan tak berkurang kepercayaan itu, seperti kau meyakini masih akan adanya siang setelah malam…
Aku masih berharap bercerita bersamamu
Kamu dan Rindu
Apa kabarmu gadis purnama? kita pernah berjanji diatas sebuah kertas pada malam purnama tanggal enam bulan kedelapan. Hari semakin membara sejak saat itu, dan kadang pun tak dapat dipungkiri kita berperang dengan kata. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan musim itu kembali, dimana langit menyirami tanah dengan wewangian. Kita mungkin terasa dekat, karena kita masih berpijak di tempat yang sama. Tapi bagiku kita memang sudah jauh, bayangan kita pun sudah tak lagi menyapa. Jikalaupun bertemu, tiada sapa. Aku merindukanmu, tapi yang terjadi tak dapat kembali. Aku mencintaimu dan tetap masih tak beralasan mengapa.
Aku merindukanmu dalam damai, seperti saat kita berlayar dilautan yang membawa kita melayang-layang, tak ada cemas. hanya sebuah tawa.
Aku tak ingin kau kembali, kembali menjadi tanpa arti yang tak dapat kau maknai. Aku mencintaimu dan tak berkurang kepercayaan itu, seperti kau meyakini masih akan adanya siang setelah malam…
Aku masih berharap bercerita bersamamu